<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Perempuan</title>
	<atom:link href="http://bukuperempuan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bukuperempuan.wordpress.com</link>
	<description>Especially for You</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Mar 2010 04:00:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bukuperempuan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dunia Perempuan</title>
		<link>http://bukuperempuan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bukuperempuan.wordpress.com/osd.xml" title="Dunia Perempuan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bukuperempuan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>:: Berkas-berkas Suara Hati ::</title>
		<link>http://bukuperempuan.wordpress.com/2010/01/13/berkas-berkas-suara-hati/</link>
		<comments>http://bukuperempuan.wordpress.com/2010/01/13/berkas-berkas-suara-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 04:11:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Risa Amrikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[buku perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[especially for you]]></category>
		<category><![CDATA[Genie]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[risa amrikasari]]></category>
		<category><![CDATA[rose heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuperempuan.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[*dimuat di halaman 54 Tabloid Genie Edisi Khusus Natal dan Tahun Baru Judul Buku Especially for You: A Collection of Self Motivation Articles for Tough Women Only Penulis Risa Amrikasari a.k.a Rose Heart Editor Risa Amrikasari Penerbit Rose Heart™ Publishing Edisi Cetakan Pertama, Juni 2009 Percetakan PT Gramedia, Jakarta Tebal 352 + xx hlm Harga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukuperempuan.wordpress.com&amp;blog=9135185&amp;post=28&amp;subd=bukuperempuan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>*dimuat di halaman 54 <strong>Tabloid Genie</strong> Edisi Khusus Natal dan Tahun Baru</em></p>
<p><em><a href="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2010/01/reviewgenie.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-29" title="reviewgenie" src="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2010/01/reviewgenie.jpg?w=275&#038;h=300" alt="" width="275" height="300" /></a><br />
</em></p>
<div>Judul Buku<br />
<strong>Especially for You: A Collection of Self Motivation Articles for Tough Women Only</strong><br />
Penulis<br />
<strong>Risa Amrikasari a.k.a Rose Heart</strong><br />
Editor<br />
<strong>Risa Amrikasari</strong><br />
Penerbit<br />
<strong>Rose Heart™ Publishing</strong><br />
Edisi<br />
<strong>Cetakan Pertama, Juni 2009</strong><br />
Percetakan<br />
<strong>PT Gramedia, Jakarta</strong><br />
Tebal<br />
<strong>352 + xx hlm</strong></div>
<p>Harga<br />
<strong>Rp. 72.000,-<br />
</strong></p>
<div><strong>Pemesanan online melalui e-mail : </strong><strong> </strong><strong><a href="mailto:andi_pratita@yahoo.co.id/">andi_pratita@yahoo.co.id</a></strong></div>
<div>
<p>******</p>
<p><em>I do not wish them to have power over men, but over themselves</em>. Demikian kata Mary Wollstonecraft. Kalimat yang bisa dibaca juga sebagai harapan, dari penulis hebat ini bisa dimengerti dalam konteks perjuangan seorang perempuan di tengah dominasi laki-laki. Kehebatan seorang perempuan terletak pada keberaniannya memperkarakan diri dan bukan pada “kekerasannya” menghantam laki-laki. Perempuan seperti itulah yang sungguh-sungguh diharapkan Wollstonecraft.</p>
<p>Agaknya harapan akan perempuan seperti itu mewujud, salah satunya, dalam diri Risa Amrikasari. Dikatakan ”mewujud’ dalam<strong> Risa Amrikasari</strong> oleh karena <strong>Risa Amrikasari</strong> tak “menghantam” laki-laki. Yang justru ia hantam dan perkarakan adalah perempuan. Di sini Risa menolak mentah-mentah anggapan yang sudah terlanjur kuat mengakar yaitu bahwa perempuan “memang” lemah. Lemah karena dilemahkan laki-laki. Tidak. Di kepala dan hati Risa, perempuan lemah – dan selanjutnya dianggap demikian – karena mereka tak sadar bahwa diri mereka hebat dan bernilai. Kalau perempuan sadar bahwa mereka hebat dan bernilai, lepas dari berbagai atribut dan citra superfisial, mereka tak akan lemah.</p>
<p>“Kelemahan” perempuan itu ia bongkar dengan sangat tajam, jelas dan menggigit dalam bukunya yang berjudul Especially for You: A Collection of Self Motivation Articles for Tough Women Only. Persoalan dan masalah kaumnya ia angkat dan perkarakan dengan elegan dalam 65 artikelnya. Tak ada kebohongan di dalam setiap nukilannya. Malah nukilan-nukilannya itu adalah teriakan bernas dan jujur seorang perempuan yang benar-benar sadar diri, merayakan keilahian dan hakikat dirinya, dan mengakui betul bahwa dalam dan pada dirinya sendiri ia berharga dan indah. Semacam berkas suara hati yang tulus dari seorang perempuan.</p>
<p>Teriakan sekaligus undangan untuk “mengerti” diri itu ia lemparkan dalam dan melalui artikel berjudul <strong>“Women Self Confidence Saves Lives”.</strong> Apa, mengapa, dan bagaimana seharusnya sikap seorang perempuan ketika suami atau kekasihnya selingkuh ia bentangkan dengan jelas.<em> <strong>“Mungkin menurut pasangan saya, dia lebih cantik. Tapi menurut saya, saya lebih cantik. Karena cantik menurut saya adalah memiliki penampilan fisik yang baik, otak yang bermanfaat untuk membuat hidup saya lebih berarti, dan semangat saya yang tak pernah padam! Kalau itu sudah bukan ukuran ’cantik’ untuk pasangan saya, ya berarti memang sudah tidak sepaham. Oleh karena itu saya harus pergi…</strong></em>(hlm. 7)”.</p>
<p>Bukankah rangkaian kalimat itu biasa-biasa saja? Mudah dimengerti? Tanpa ditulis pun orang bisa langsung hapal? Memang. Tapi jangan lihat hal itu. Lihat yang satu ini. Keberanian besar seorang perempuan untuk mengambil sikap. Mengambil sikap menghargai diri dan hidupnya. Kalimat itu adalah resistensi terhadap citra yang dibangun di atas kapitalisme dan konsumerisme. Itu adalah dekonstruksi yang tulus dan berani terhadap <em>matrix of thought</em> yang salah.</p>
<p>Ada begitu banyak hal yang diangkat dan dipersoalkan Risa. Dan kebanyakan hal itu tak betul-betul disadari banyak orang. Entah karena sudah biasa, entah karena tak mau tahu. Yang jelas, kelaziman itu dibedah Risa dengan kritis. Misalnya saja, tradisi cium tangan yang ia ungkap dalam artikel berjudul<strong> “That Hand Kissing”</strong>. Apa yang salah dari cium tangan? Bukankah itu baik? Apalagi sambil membungkuk? Bukankah itu representasi sangat jelas dari isi kultur ketimuran kita?</p>
<p>Risa sebetulnya sangat menghormati tradisi itu. Tapi jika kemudian ia menggugat, berarti ada yang salah dalam kelaziman itu. Mengapa Anda mesti mencium tangan orang yang tak punya hubungan yang jelas dengan Anda? Tak pernah membuat Anda berkembang dan sadari diri? Apalagi orang itu menyakiti Anda? Jangan hanya karena sekeping kebiasaan dan norma lalu Anda merendahkan diri. Jangan hanya karena aturan yang tak jelas asal-usulnya lalu Anda “kalah”.</p>
<p>Yang diangkat dan dipersoalkan Risa di sini adalah sikap kritis dan harga diri. Kekritisan mesti dipupuk. Harga diri mesti dibina. Kedua harta itu tak boleh kalah dalam kebiasaan yang mentah. Juga tak bisa saling menenggelamkan atau menegasikan. <strong><em>“Ketika saya merasa pengabdian saya tak sebanding dengan apa yang saya terima, hati saya memberontak. Saya tidak rela mencium tangan sebagai bentuk rasa hormat saya! Why should I respect him if he didn’t do the same? Isn’t love a partnership?</em></strong> (hlm. 37).”</p>
<p>Risa adalah kristal perempuan masa kini. Cerdas, kritis, tak suka “tunggu”, dan langsung “hantam” supaya orang berubah. Elemen seperti itu menggumpal dalam kata-kata, sikap, dan pandangannya. Kata-katanya tajam dan tak kurang menusuk. Kalau Anda ingin mencari kalimat puitis, dalam arti simbolik dan metaforik, Anda tak akan menemukan barisan kalimat itu. Malah kuping Anda panas karena kata-kata itu langsung menghunjam dan merobek emosi dan logika Anda. Dan ia sendiri sudah mewanti-wanti harapan Anda itu dalam empat paragraf di sampul belakang. <em><strong>“Jika Anda berharap menemukan tulisan yang romantis ataupun lemah lembut, Anda akan sedikit tertoreh dengan kalimat-kalimat saya”</strong>.</em></p>
<p><strong>=Gabriel=</strong></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bukuperempuan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bukuperempuan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bukuperempuan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bukuperempuan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bukuperempuan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bukuperempuan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bukuperempuan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bukuperempuan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bukuperempuan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bukuperempuan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bukuperempuan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bukuperempuan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bukuperempuan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bukuperempuan.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukuperempuan.wordpress.com&amp;blog=9135185&amp;post=28&amp;subd=bukuperempuan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuperempuan.wordpress.com/2010/01/13/berkas-berkas-suara-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b307edf60fad4d7ca249abfb659b2e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bukuperempuan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2010/01/reviewgenie.jpg?w=275" medium="image">
			<media:title type="html">reviewgenie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>::Risa Hartati Amrikasari &#8211; Tegar karena Dukungan Anak-anaknya &#8211; by GABRIEL::</title>
		<link>http://bukuperempuan.wordpress.com/2009/08/23/risa-hartati-amrikasari-tegar-karena-dukungan-anak-anaknya-by-gabriel/</link>
		<comments>http://bukuperempuan.wordpress.com/2009/08/23/risa-hartati-amrikasari-tegar-karena-dukungan-anak-anaknya-by-gabriel/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 18:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Risa Amrikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Publications]]></category>
		<category><![CDATA[amrikasari]]></category>
		<category><![CDATA[buku perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[especially for you]]></category>
		<category><![CDATA[Genie]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[risa]]></category>
		<category><![CDATA[risa amrikasari]]></category>
		<category><![CDATA[rose heart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuperempuan.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[**Dimuat di halaman MYSTORY &#8211; Tabloid GENIE, edisi 24-30 Agustus 2009** oleh : GABRIEL Being a woman is a terribly difficult task, since it consists principally in dealing with men. Menjadi seorang perempuan itu sangat sulit. Sangat sulit karena mesti berhubungan dengan laki-kali. Demikian kata Joseph Conrad, seorang novelis hebat kelahiran Polandia yang hidup pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukuperempuan.wordpress.com&amp;blog=9135185&amp;post=15&amp;subd=bukuperempuan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>**Dimuat di halaman MYSTORY &#8211; Tabloid GENIE, edisi 24-30 Agustus 2009**</em><br />
oleh : GABRIEL</strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_16" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><img class="size-medium wp-image-16" title="Risa Amrikasari" src="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2009/08/risa-genie2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Risa di MY STORY - Tabloid GENIE edisi 24-30 Agustus 2009" width="300" height="225" /></strong><p class="wp-caption-text">Risa di MY STORY - Tabloid GENIE edisi 24-30 Agustus 2009</p></div>
<p></strong></p>
<blockquote><p><strong><em>Being a woman is a terribly difficult task, since it consists principally in dealing with men</em>. Menjadi seorang perempuan itu sangat sulit. Sangat sulit karena mesti berhubungan dengan laki-kali. Demikian kata Joseph Conrad, seorang novelis hebat kelahiran Polandia yang hidup pada akhir abad ke-19. </strong></p></blockquote>
<p>Pendapat Józef Teodor Konrad Korzeniowski, demikian nama lengkapnya, itu adalah satu dari sekian banyak pendapat berbau pesimis terhadap dan tentang perempuan. Kalimat itu, mungkin, sedikit lebih halus daripada kalimat Plato, Thomas Aquinas, Immanuel Kant, dan Arthur Schopenhauer.</p>
<p>Filsuf-filsuf yang disebut di atas sedikit lebih tajam ketika berbicara tentang perempuan. Plato, misalnya, bilang bahwa perempuan harus diawasi seperti hewan peliharaan. Thomas Aquinas melemparkan konsep bahwa perempuan bukanlah makhluk ciptaan pertama. Immanuel Kant menganggap perempuan hanya bisa bersenang-senang dan menyukai kemewahan. Arthur Schopenhauer sedikit lebih keras dengan mengatakan bahwa perempuan tidak rasional.</p>
<p>Formulasinya berbeda. Tapi sebetulnya substansinya jelas. Perempuan tidak hebat. Laki-lakilah yang hebat. Hebat dalam segala-galanya. Lebih hebat otaknya. Lebih hebat perasaannya. Lebih hebat sikapnya. Lebih hebat sifatnya. Perempuan tidak. Benarkah demikian?</p>
<p>Mesti kita akui, penilaian itu adalah produk keangkuhan sejarah paternalistik. Sejarah salah dan sombong karena merendahkan perempuan. Sebetulnya sudah sejak dulu perempuan hebat. Sudah sejak dulu perempuan pintar. Tapi sejarah tidak melihatnya. Belakangan baru sejarah agak “melek”.</p>
<p>Di tanah air kita pun sebetulnya ada banyak perempuan hebat, sekalipun tak banyak yang tahu. Ada banyak perempuan yang tak hanya hebat mengurus rumah tangga, tetapi juga hebat memimpin orang. Tak hanya hebat omong, tetapi juga hebat berjuang. Bahkan mungkin lebih hebat daripada laki-laki. Salah satu dari sekian banyak perempuan yang hebat itu adalah <strong>Risa Hartati Amrikasari</strong>.</p>
<p><strong>Cerdas dan Bertanggung Jawab. </strong></p>
<p>Risa, demikian panggilannya, adalah sulung dari empat bersaudara. Ia lahir di Jakarta, 22 Oktober 1969. Ayahnya, Soekardjan, adalah seorang pensiunan polisi. Dia pernah dikirim ke Amerika Serikat untuk belajar. Selama setahun dia tinggal di negeri Paman Sam itu. Sempat bekerja di PT. Lippo Land Development sesudah pensiun dari polisi. “Hanya Bapak sendiri yang ke sana. Sehingga waktu Bapak pulang, sempat <em>gak</em> kenal,” katanya kepada <strong>Genie</strong> beberapa waktu lalu di Menteng, Jakarta Pusat. Sementara ibunya, Entjun Sunariah, adalah mantan lurah di sebuah kelurahan di Lampung.</p>
<p>Pada umur 3 tahun, Risa masuk TK Bhayangkari, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Bayangkan, ketika banyak anak seumurannya—waktu itu—sedang asyik-asyiknya bermain bersama ibu dan atau pembantunya, Risa malah ingin bersekolah. Usut punya usut, Risa tertarik ketika melihat anak-anak TK—yang tinggal di sekitar rumahnya—berangkat dan pulang dari sekolah dengan wajah yang ceria. Karena itulah ia merengek pada ibunya agar bisa bersekolah. Ibunya tak bisa berbuat banyak. Dia lalu meminta bantuan kenalannya untuk memasukkan Risa ke TK Bhayangkari.</p>
<p>Di TK Bhayangkari itu, Risa menonjol. Walapun umurnya masih belum cukup, malah termuda, ia mampu tampil menjadi yang terbaik. Karena belum cukup umur untuk bisa lulus, Risa kecil harus rela menambah satu tahun lagi pendidikannya di TK Bhayangkari itu. Baru setelah itu ia melangkah ke SD Tugu 4, Kelapa Dua, Depok.</p>
<p>Selama duduk di bangku SD ini, prestasi akademiknya cemerlang. Ia selalu menjadi juara umum. Malah juara umum sudah seperti langganannya. Maklum, ia adalah gadis kecil yang suka membaca dan rajin belajar. Juga aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, antara lain, Pramuka. Ia pernah menjadi ketua regu Pramuka di sekolahnya dan mengikuti Jambore.</p>
<p>Tamat dari SD Tugu 4, Risa melanjutkan pendidikannya ke SMPN 49, Jakarta Timur. Prestasi akademiknya masih bagus. Masih menjadi yang terbaik. Sekali lagi, Risa rajin belajar. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa. Selain rajin belajar, ia juga aktif di dalam berbagai kegiatan sekolah, antara lain, menjadi anggota PKS (Patroli Keamanan Sekolah).</p>
<p>Tapi bukan hanya itu saja yang menarik dalam periode ini. Adalah kemandirian dan tanggung jawabnya yang menarik. Yang membuatnya berbeda dari teman-teman seumurannya. Sebelum pergi ke sekolah, misalnya, Risa dan adik-adiknya harus membersihkan rumah dan menyiapkan makanan. Demikian pun setelah pulang dari sekolah. Kalau bukan mereka, siapa lagi? Ibu mereka berada di Lampung. “Selama 5 tahun kita <em>gak</em> tinggal sama Ibu. Ibu baru pulang setiap 2 minggu,” ceritanya. Maklum, ibunya adalah seorang lurah di Lampung.</p>
<p>Tamat dari SMPN 49, Risa masuk SMAN 39, Cijantung, Jakarta Timur. Prestasi akademiknya? Ia masih menjadi salah satu siswi berprestasi. Masih menjadi yang terbaik. Karena prestasinya itulah, ia dipilih menjadi anggota Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera). Dari SMAN 39, Risa melanjutkan pendidikannya ke Universitas Nasional Jakarta. Ia memilih jurusan Sastra Inggris. Mengapa Sastra Inggris? Karena ia suka. Asal tahu saja, Risa sudah bisa berbahasa Inggris sejak berumur 3 tahun. “Kalau minta minum, kata Ibu, <em>‘Mom, I want to have tea, please.’</em> Dari kecil memang sudah <em>ngomong</em> bahasa Inggris,” ceritanya.</p>
<p>Selama kuliah pun Risa tak tinggal diam. Hanya kuliah semata. Ia juga bekerja. Ketika duduk di semester II, ia dan lima temannya bekerja paruh waktu sebagai <em>stand guide</em> selama pameran di PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat. Caranya? Mereka datang ke kantor PRJ dan meminta daftar perusahaan yang ikut pameran. Itulah pekerjaan pertamanya. Dari pekerjaan inilah, ia kemudian menjadi sekretaris di PT. Mart Info Praga, Jakarta. “Waktu itu tesnya bikin surat dalam bahasa Inggris. Kebetulan aku sering bantu Bapak bikin surat,” ungkapnya.</p>
<p>Sejak bekerja inilah, ia perlahan-lahan “melepaskan” diri dari orang tuanya. Ia tak mau bergantung sepenuhnya pada orang tuanya. Apa yang bisa ia beli dengan uangnya sendiri, akan ia beli. Termasuk membiayai kuliahnya. Ia tak lagi bergantung pada orang tuanya. Apalagi orang tuanya juga harus membiayai pendidikan ketiga adiknya. “Kalau uang habis dan belum gajian, aku <em>ngutang</em> dulu pada Ibu. Pas gajian baru aku ganti,” imbuhnya sambil tersenyum.</p>
<p>Setelah 3 tahun bekerja sebagai sekretaris di PT. Mart Info Praga, Risa bekerja sebagai sekretaris di Lippo Village, PT. Lippo Karawaci, Jakarta. Tak sampai setahun ia bekerja di perusahaan ini. Hanya 8 bulan, sejak Agustus 1991-Maret 1992. “Aku <em>gak</em> mau berlama-lama. Aku ingin coba sesuatu yang baru,” tandasnya. Sebulan setelah berhenti dari Lippo Village, ia bekerja di Arthur Andersen &amp; Co., Jakarta. Ia bekerja sebagai sekretaris senior selama 3 tahun.</p>
<p>Sebetulnya kedua orang tuanya menentang keinginannya. Kalau pun ia tidak bekerja, mereka tetap bisa membiayai pendidikannya hingga selesai. Tapi Risa keras kepala. Ia bilang bahwa ia tetap bisa menyelesaikan pendidikannya sekalipun bekerja. Dan memang Risa bisa menyelesaikan pendidikannya. Itu pun setelah diancam. Ia diancam akan di-<strong>DO</strong> (<em>drop out</em>) oleh dosennya jika tak segera menyelesaikan kuliahnya. “Karena keasyikan kerja, kuliah jadi lama. Aku sempat diancam sama dosen akan di-<strong>DO</strong>. Akhirnya aku <em>selesaiin</em> kuliah,” kenangnya. Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1994.</p>
<p><strong>Penghargaan Bergengsi.</strong></p>
<p>Setelah lulus, Risa tak lama menganggur. Pada Desember 1995 ia hijrah ke Semarang. Ia bekerja di PT. Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, Semarang, Jawa Tengah, sebagai sekretaris eksekutif. Di Semarang itu, ia tinggal di sebuah kos sederhana. Sebagian gajinya ia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagian lagi ia kirim kepada orang tuanya.</p>
<p>Pada tahun 1997 ia kembali ke Jakarta. Ia kembali untuk menikah dengan Eddy. Setelah itu, ia dan Eddy kembali ke Semarang. Mereka tak lagi tinggal di kos, tapi di rumah. Rumah itu adalah rumah Risa. Rumah yang ia beli dengan uang tabungannya.</p>
<p>Perlahan namun pasti, karier Risa melonjak. Dari Executive Secretary to the President Director, jabatan Risa naik menjadi Executive Assistant to the Board of Directors (Corporate Secretary). Selama 2 tahun lebih ia memegang jabatan ini. “Jurusan Sastra Inggris yang saya ambil memang memberikan kesempatan banyak bagi saya untuk menulis dan berbicara bahasa Inggris dengan baik, sehingga saya dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang memang mengutamakan keahlian di bidang itu,” terangnya.</p>
<p>Sejak bekerja di perusahaan ini, Risa mendadak menjadi orang kaya. Ia punya 1 rumah yang megah dan 3 mobil. Jelas ini sebuah hasil yang “tinggi” untuk seorang perempuan waktu itu. Dan hasil seperti itu bisa dimaklumi karena gaji sebulannya lumayan besar. Besarnya gaji sebanding dengan besarnya tanggung jawab. Semakin besar tanggung jawab, semakin tinggi gaji. Dan itu semua dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman, dan kreativitas.</p>
<p>Tak hanya mendadak kaya, Risa juga—seperti dengan tiba-tiba—membelalakkan mata orang banyak bahwa perempuan tak lemah. Bahkan tak selalu lemah. Ia membuka lebar-lebar mata orang bahwa perempuan juga cerdas, visioner, dan inovatif. Pada tahun 1998, ia mendapat penghargaan “Kharisma Kartini” se-Jateng dan DIY. Setahun kemudian, ia masuk menjadi satu dari “100 Profil Wanita Eksekutif Indonesia”. Lalu pada tahun 2001 ia mendapat “Anugerah Wanita Eksekutif Indonesia” se-Jawa dan Bali.</p>
<p>Risa kaya tak hanya karena gajinya besar, tetapi juga karena punya usaha sampingan yaitu sewa mobil. Tapi usahanya ini hancur pada tahun 1998. Selain karena krisis moneter yang menghancurkan roda perekonomian tanah air, usahanya hancur juga karena ia ditipu rekan bisnisnya. Belum lagi gejolak rumah tangganya. Ia bercerai dari suaminya pada tahun 2000.</p>
<p>Gejolak itu, sedikit-tidaknya, berpengaruh terhadap kehidupan Risa. Dibilang “sedikit-tidaknya” karena sebetulnya ia tak hancur total. Hartanya berkurang, selain karena bisnisnya hancur, juga karena suaminya menjual mobil. Itu soal hartanya. Soal otak, ia tetap “kuat”. Masih kreatif dan cerdas. Malah gejolak rumah tangganya itu mendidiknya untuk berdiri tegar. Buktinya, ia meraih “Anugerah Wanita Eksekutif Indonesia” se-Jawa dan Bali pada tahun 2001.</p>
<p>Risa bekerja di PT. Mitra Global Telekomunikasi Indonesia hingga Oktober 2002. Rencananya, ia ingin terbang ke New Zealand untuk menenangkan diri. Tapi rencana itu batal karena Bali dibom. Dengan uang sebesar Rp. 300 juta yang diberi oleh perusahaannya, ia kembali ke Jakarta. Kembali ke rumah orang tuanya di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Di situlah ia dan kedua orang putri cantiknya, <strong>Sydney Callista</strong> dan <strong>Edsa Estella</strong>, tinggal.</p>
<p>Berhenti di situkah langkah Risa? Tidak juga. Asal tahu saja, Risa adalah perempuan yang tak mudah menyerah. Ia adalah perempuan yang tak betah pada hal yang biasa-biasa saja. Ia adalah perempuan yang tak mau terbelenggu oleh dan di dalam situasi. Tambahan lagi, orang tua dan kedua putrinya mendukungnya. “Semua cerita sedih itu tidak mampu membuat saya hancur. Dukungan dari keluarga dan kecintaan saya adalah hal-hal yang tak akan membuat saya menyia-nyiakan hidup saya. Kekuatan saya datang dari cinta orang tua saya dan kedua anak saya,” tandasnya.</p>
<p>Dengan uang yang ada, ia mulai mencari kerja. Mulai lagi dari awal. Mencari informasi lowongan kerja dan membuat surat lamaran. Ke mana-mana ia naik taksi. Selama masa-masa sulit ini, banyak orang yang mendukungnya, antara lain, <strong>R. Dwiyanto Prihartono, SH</strong>—yang kini menjadi kekasihnya dan yang dengannya ia bekerja—dan Danang Saputra, temannya. Nama yang disebut terakhir ini pernah datang ke rumahnya membawa uang. “Katanya untuk ongkos pergi <em>interview,</em>” kenangnya.</p>
<p><strong>Government Liaison Officer.</strong></p>
<p>Perlahan namun pasti, Risa berhasil menata kehidupannya. Pada Januari 2003, ia mulai bekerja bersama Dwiyanto Prihartono di kantor <strong>Prihartono &amp; Partners, General Corporate &amp; Commercial Litigation Law Farm, Jakarta</strong>. “Aku <em>gak</em> minta dibayar. Aku mau bantu <em>aja,</em>” katanya. Sampai sekarang ia masih bekerja di situ.</p>
<p>Pada Juni 2004, menjelang Pemilu, ia dipanggil untuk bergabung dengan European Union. Ia menjadi Senior Secretary to the Chief Observer hingga Oktober 2004. Setelah itu, ia bergabung dengan <strong>International Organization for Migration (IOM) Indonesia</strong>. Di organisasi bertaraf internasional ini, karier Risa berkembang cepat. Kemampuan berbahasa Inggris yang baik membuatnya mendapatkan jabatan bergengsi. Juga dengan mudah terbang ke luar negeri seperti ke Bangkok, Vietnam, Pakistan.</p>
<p>Risa memulai kariernya dengan menjadi National Programme Assistant for Asia pada Oktober 2004-Mei 2008. Lalu sejak Juni 2008 sampai sekarang ia menjabat sebagai <strong>Government Liaison Officer</strong>. Kehadirannya menarik perhatian para pembesar organisasi ini karena keberanian, kecerdasan, dan inovasinya. Ia dengan cepat mengurus dan membereskan administrasi yang selama ini tidak jelas dan tersendat-sendat. Itulah mengapa dalam tahun 2008 jabatannya naik tiga kali. “<strong>Mr. John Stephen Cook</strong> adalah orang yang paling berjasa dalam karierku di IOM. Beliau dulu atasanku, Chief of Mission IOM Indonesia. Baru Mei lalu beliau pensiun,” katanya. <strong>Gabriel</strong></p>
<p><strong>Ajak Perempuan untuk Berpikir Kritis</strong></p>
<p>Risa adalah perempuan yang hebat. Hebatnya adalah ia tak mau hebat sendiri. Tak mau pintar sendiri. Tak mau kritis sendiri. Ia ingin orang lain, khususnya perempuan, juga pintar, kritis, dan hebat. Karena itulah ia melemparkan sebuah buku berjudul <em>You Need a GOOD LAWYER to Set You Free from the Jail of Your Heart. </em></p>
<p>Buku ini adalah kumpulan tulisan para <em>blogger</em> yang tergabung dalam komunitas yang dibentuknya pada tahun 2005 lalu, <strong>Rose Heart Writers</strong>. Sejumlah artikel menarik tentang hukum disajikan secara menarik, mudah dimengerti, dan jelas. Persoalan hukum yang jelimet ia beberkan dengan sederhana. ”Saya ingin agar perempuan juga melek hukum. Supaya bisa mengambil sikap kalau ternyata ada yang tidak beres dalam keluarganya,” katanya. Buku ini adalah buku ketiganya. Sebelumnya ia sudah menulis dua buku yaitu <em>Heart in The Sand</em> dan <em>Devotion.</em></p>
<p>Misi itu, mengajak perempuan berpikir kritis, juga ia usung dalam bukunya yang berjudul <em>Especially for You. A Collection of Self Motivation Articles for Tough Women Only.</em> Ada sejumlah nukilan yang menarik dan pantas dibaca. Dengan gaya bertutur yang khas dan mengalir, ia membongkar berbagai persoalan mendasar, seperti persoalan perasaan, kepercayaan terhadap pasangan, perselingkuhan, cinta, sopan santun, perkawinan, KDRT, perceraian, urusan hukum dan perundang-undangan. nukilan yang bersinggungan dengan hukum.</p>
<p>Buku-buku itu pantas dibaca. Itu adalah persembahan seorang perempuan Indonesia yang tak ingat diri. Itu adalah persembahan seorang perempuan Indonesia yang tahu apa artinya susah, berjuang, dan bangkit. Risa adalah setangkai mawar indah untuk perempuan yang berani berpikir kritis. <strong>Gabriel</strong></p>
<p><strong>“Tanpa ayah, kami masih bisa hidup”</strong></p>
<p>Sabtu, 8 September 2007. Hari itu jadwal kuliahnya ditiadakan. Asal tahu saja, sampai dengan saat ini Risa sedang menyelesaikan pendidikan magisterialnya di Universitas Gajah Mada, Jakarta. Karena tak kuliah, hari itu ia kembali ke rumahnya. Ia ingin bertemu dengan kedua buah hatinya. Biasanya demikian kalau ia tak sibuk. Malah hari Sabtu dan Minggu adalah hari khusus untuk kedua putrinya. Ia tak mau diganggu pada kedua hari itu.</p>
<p>Tiba di rumah, ia disambut kedua putrinya. Mereka berpelukan dan berjalan menuju kamar tidur. Sampai di kamar tidur, kedua putrinya duduk di atas tempat tidur. Risa belum duduk. Matanya jatuh ke atas empat pucuk surat yang terletak di atas meja. Dua surat ucapan terima kasih dan dua yang lain berisi gambar yang menyentuh hati.</p>
<p>Surat pertama dari Sidney. Pada amplop tertulis <em>For: Mama, From: Sydney. “Terima kasih Mah. Salam sayang Sydney untuk Mama. I love you. Your Daughter, Sydney.”</em> Demikian isi surat gadis kecil yang sekarang duduk di bangku SMP Global Mandiri, Cibubur. Itu adalah ungkapan cinta dan terima kasih Sydney yang tulus karena telah dibelikan satu set krayon, spidol dan peralatan menggambar lainnya.</p>
<p>Lalu Risa meraih amplop yang satunya lagi. Masih dari Sydney. Apa isinya? Sebuah gambar. Gambar seorang perempuan yang berdiri tegak dengan tangan berkacak pada pinggang. Di bawah gambar itu ada sebuah nama. “Risa”. Ternyata perempuan dalam gambar itu adalah Risa. Ternyata itulah gambaran seorang Risa di mata Sydney, putrinya. Melihat gambar dan membaca nama itu, perasaan Risa semakin berkecamuk. Lebih tepatnya semakin campur aduk.</p>
<p>Ia kemudian mengambil surat yang lain. Surat dari putri keduanya, Echa. Pada amplop itu ada tulisan <em>Untuk Mamaku tersayang. For Mama. From: Echa.</em> Sebelum menulis isinya, gadis kecil yang masih duduk di bangku SD Semut-semut, Depok, itu menggambar sesuatu. Sebuah hati yang ditembusi tombak di sudut kiri surat dan sebuah kembang di pojok kanan surat. Di antara kembang dan hati itu ada sebuah tali. Tali itu ditarik dari kembang menuju hati. Sebelum sampai ke hati, ada sebuah titik. Mungkin itu simpul. Jika benar itu simpul, akan terlihat bahwa tali yang keluar dari kembang lebih panjang daripada tali yang keluar dari hati yang ditembusi tombak.</p>
<p>Mungkin Echa asal menggambar biar kelihatan enak di mata. Tapi gambar itu menyimpan makna yang, jika ditafsir atau dibaca ulang, bisa berhalaman-halaman buku. Hati yang ditembusi tombak adalah Risa. Dan kembang yang merekah sempurna adalah Echa. Risa bisa kuat berdiri karena cinta dan dorongan Echa yang besar.</p>
<p>Setelah gambar, yang ternyata menjadi pembatas antara alamat dan isi surat, Echa menulis sesuatu. <em>Terima kasih ya Mah, crayon dan spidolnya. Crayon dan spidolnya bagus banget&#8230;.!</em> Itu isi suratnya. Sebuah ungkapan terima kasih yang sederhana tetapi dalam. Lalu di bawah tulisan itu Echa menggambar sesuatu. Echa menggambar dua perempuan kecil dan seorang perempuan dewasa. Di antara mereka ada gambar entah kecapung, kupu-kupu, atau bunga. Di atasnya tertulis “Disney”. Lalu di pojok kanan gambar itu tertulis sebuah nama. “Echa”.</p>
<p>Kemudian ia mengambil surat terakhir. Masih juga dari Echa. Risa membuka dan melihatnya. Di situ Echa menggambar seorang ibu yang berdiri di antara dua orang gadisnya. Risa sudah bisa menebak siapa mereka. Ibu itu adalah dirinya, gadis yang berdiri di samping kirinya adalah Sydney, kakak Echa, dan gadis yang berdiri di samping kanannya adalah Echa.</p>
<p>Tapi yang membuat hati Risa berkecamuk tak karuan adalah kata-kata di atas gambar itu. <strong>“Keluarga inti tanpa ayah kami masih bisa hidup”.</strong> Barisan kata itu seperti puncak refleksi Echa. Ternyata tak ada Eddy pun mereka masih bisa hidup. Malah lebih dari berkecukupan. Malah tetap dan semakin kuat. Risa melepaskan surat itu dan memeluk kedua putrinya. Mereka bergulingan di atas tempat tidur.</p>
<p>Demikianlah Risa, Sydney, dan Echa merayakan dan menikmati cinta. Setiap momen kebersamaan mereka adalah momen penuh cinta. Dan momen itu ia tuangkan, sekalipun tak semuanya, di dalam buku keempatnya yang berjudul <em>Especially for You. A Collection of Self Motivation Articles for Tough Women Only.</em><strong> Gabriel</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><img class="size-medium wp-image-17 aligncenter" title="tagline-back" src="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2009/08/tagline-back.jpg?w=300&#038;h=225" alt="tagline-back" width="300" height="225" /><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bukuperempuan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bukuperempuan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bukuperempuan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bukuperempuan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bukuperempuan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bukuperempuan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bukuperempuan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bukuperempuan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bukuperempuan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bukuperempuan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bukuperempuan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bukuperempuan.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bukuperempuan.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bukuperempuan.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukuperempuan.wordpress.com&amp;blog=9135185&amp;post=15&amp;subd=bukuperempuan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuperempuan.wordpress.com/2009/08/23/risa-hartati-amrikasari-tegar-karena-dukungan-anak-anaknya-by-gabriel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b307edf60fad4d7ca249abfb659b2e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bukuperempuan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2009/08/risa-genie2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Risa Amrikasari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2009/08/tagline-back.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tagline-back</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>:: Setangkai Mawar Berduri untuk Perempuan Indonesia &#8211; oleh Agus Sukandar ::</title>
		<link>http://bukuperempuan.wordpress.com/2009/08/23/setangkai-mawar-berduri-untuk-perempuan-indonesia-oleh-agus-sukandar/</link>
		<comments>http://bukuperempuan.wordpress.com/2009/08/23/setangkai-mawar-berduri-untuk-perempuan-indonesia-oleh-agus-sukandar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 18:44:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Risa Amrikasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku 1]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[especially for you]]></category>
		<category><![CDATA[harian merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[risa amrikasari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bukuperempuan.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[: Dimuat di halaman Opini Harian Merdeka, Kamis, 30 Juli 2009. :: “Remember the Dignity of your womanhood. Do not appeal. Do not beg. Do not grovel. Take courage. Join hands, stand beside me, fight with me!” (Ingatlah akan martabat Anda sebagai perempuan. Jangan cengeng. Jangan mengemis-ngemis. Jangan rendah diri. Berbesarhatilah. Mari bergandeng tangan, berdiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukuperempuan.wordpress.com&amp;blog=9135185&amp;post=4&amp;subd=bukuperempuan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>:  Dimuat di halaman Opini Harian Merdeka, Kamis, 30 Juli 2009. ::</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<div id="attachment_11" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><em><strong><em><img class="size-medium wp-image-11" title="Especially for You" src="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2009/08/12.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Resensi di Harian Merdeka 30 Juli 2009" width="300" height="225" /></em></strong></em></strong><p class="wp-caption-text">Resensi di Harian Merdeka 30 Juli 2009</p></div>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<blockquote><p><strong><em>“Remember the Dignity of your womanhood. Do not appeal. Do not beg. Do not grovel. Take courage. Join hands, stand beside me, fight with me!”</em><br />
(Ingatlah akan martabat Anda sebagai perempuan. Jangan cengeng. Jangan mengemis-ngemis. Jangan rendah diri. Berbesarhatilah. Mari bergandeng tangan, berdiri di samping saya, berjuang bersama saya!)</strong></p></blockquote>
<p>Pesan Risa Amrikasari dalam buku terbarunya <strong>‘Especially for You’</strong> itu begitu kuat ditujukan kepada kaum perempuan. Misinya jelas: mengajak perempuan untuk bangkit dari ‘tidurnya’, dan bersikap tangguh dengan kesadaran yang cerdas tentang keluhuran martabatnya.</p>
<p>Risa bahkan memberi <em>warning</em> di sampul belakang buku setebal 372 halaman itu, <em>“Anda termasuk orang yang senang membaca hal-hal yang membuai dan menghanyutkan? Anda tidak akan menemukan itu di buku ini. Jika Anda berharap menemukan tulisan-tulisan yang romantis ataupun lemah lembut, Anda akan sedikit tertoreh dengan kalimat-kalimat saya.”</em></p>
<p>Dengan gaya bertutur yang tidak membosankan Risa menuliskan nukilan-nukilan pengalaman pribadi dari kehidupan sehari-hari ke dalam 65 judul artikel mandiri. Kenyataan yang sering diabaikan atau bahkan dihindari oleh orang-orang karena takut menyinggung perasaan, dia bongkar dengan teliti untuk kemudian mengemukakan sikap mana yang harus dikritisi dan diubah, serta mana yang patut dibela. Ia mengulas dari soal mengelola perasaan, kepercayaan terhadap pasangan, perselingkuhan, cinta dan pacaran, sopan santun, perkawinan, perselisihan pendapat, pelecehan seksual, seks di luar perkawinan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian, urusan kantor dan pekerjaan, hingga soal tradisi, agama, bahkan birokrasi, politik, hukum dan perundang-undangan.</p>
<p>Memang, buku ini ditujukan <em>‘teristimewa bagi perempuan’.</em> Namun kaum laki-laki pun sebetulnya diam-diam menerima <em>‘kado’ </em>yang sangat bernilai. Meski tema pokoknya adalah martabat perempuan <em>(womanhood dignity),</em> namun siapapun – termasuk laki-laki – yang membaca artikel demi artikel dalam buku ini, seperti diajak me-<em>review</em> kembali pemahaman dan sikapnya berkaitan dengan keluhuran martabat sebagai manusia <em>(human dignity).</em> Buku ini memberi model untuk sebuah upaya demi kemajuan dan kemerdekaan berpikir di Indonesia, terlebih untuk kaum perempuan yang enggan untuk bertatapan langsung dengan persoalan-persoalan esensial seperti itu.</p>
<p>Rupanya Risa sadar betul, bahwa untuk membongkar kesadaran akan martabat perempuan tak akan tercapai bila menggunakan cara penyampaian deduktif, biarpun terstruktur serapi mungkin. Pengalaman empiris dari hidup sehari-hari menjadi jalan yang jitu, karena perempuan sangat akrab dengan hal-hal yang detil dan teliti, apalagi menyangkut wilayah ‘domestik’ dunia perempuan. Proses pergulatan Risa melalui medium pengalaman sehari-hari itu dia bagikan dengan kapasitasnya sebagai seorang perempuan yang tidak rela bila sesamanya rapuh dan menyerah pada konsep-konsep yang membelenggu.</p>
<p>Dilahirkan 22 Oktober 1969, perempuan cantik ini dibesarkan dalam keluarga yang mendidiknya dengan penuh cinta dan rasa hormat. Bakatnya untuk cermat terhadap detil hidup sehari-hari dan tak bisa duduk berdiam diri berlama-lama dalam mengerjakan sesuatu, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang cekatan, tangguh dan <em>resourceable</em> (bisa diandalkan). <em>“Always make a total effort, even when the odds are against you”</em> adalah kutipan favoritnya dari Arnold Palmer.</p>
<p>Lulusan Fakultas Sastera Inggris Universitas Nasional tahun 1994 ini sekarang sedang mendalami Ilmu Hukum di Program Magister Hukum UGM, sambil bekerja di International Organization for Migration sebagai Government Liaison Officer dan sebagai Associate pada Prihartono &amp; Partners, sebuah kantor hukum di Jakarta. Buku pertamanya <em>‘You Need a GOOD LAWYER to Set You Free from the Jail of Your Heart’</em> sukses merebut hati pembaca. Tulisan-tulisan di blognya pun sangat diminati oleh penggemarnya.</p>
<p>Tak heran bila tema-tema dalam artikel di buku yang kedua ini sangat kental dengan kasus-kasus yang bersinggungan dengan hukum dan tak jauh dari perjuangan hak-hak asasi serta martabat manusia terutama perempuan. Di artikel terakhir, <em>‘Perempuan, lawan kekerasan itu!’</em> secara mendetil Risa mengajak kaumnya untuk mengenali pasal demi pasal UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Perempuan yang bermartabat jangan sampai terjebak menjadi korban apalagi sebagai pelaku kekerasan domestik!</p>
<p>Gaya bertutur Risa yang lugas enak dibaca, seperti mendengarkan seseorang yang curhat, ngerumpi, tetapi bermutu karena menggugah pembacanya untuk memakai cara pandang baru, bersikap positif dan cerdas, tidak hanya dikendalikan oleh emosi dan perasaan dalam hidupnya! <em>Remake yourself, refresh yourself!</em> (hlm. 40-47) sehingga ada ‘nyanyian baru’ dalam hidup pembaca.</p>
<p>Meski beranjak dari pengalaman personal domestik keperempuanan, Risa Amrikasari berhasil memasukkan isu politis. <em>The personal is political.</em></p>
<p>Isu ini populer dalam gerakan-gerakan feminis di Amerika pada paruh kedua tahun 70-an, dan mendapatkan ruangnya dalam proses kreatif para seniman perempuan Amerika <em>(feminist art).</em></p>
<p>Generasi pertama dari gerakan-gerakan feminis ini cenderung mengeksplorasi isu-isu multikulturalisme dan feminisme dengan berangkat dari pernyataan identitas perempuan dan upaya perlawanan. Simbol-simbol visual yang mereka gunakan, menyampaikan pesan secara verbal dan kontroversial. Mereka mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan tubuh dan isu komodifikasi. Pengalaman keperempuanan ditatapkan dengan wilayah sosial, bahkan politik. Karya-karya mereka merupakan bagian dari gerakan politik untuk mendukung kesetaraan dan persamaan hak bagi perempuan. Dalam proses berkarya mereka langsung bersentuhan dengan problem riil dalam masyarakat, menciptakan diskusi dan pemikiran, menginisiasi perdebatan dan bersifat partisipatif untuk proses sosial.</p>
<p>Alih-alih menggunakan bahasa yang verbal, generasi kedua cenderung menyampaikan kritisisme mereka dengan metafor. Pengalaman personal yang bersentuhan dengan isu-isu sosial-politik aktual menghadapkan mereka pada berbagai kontradiksi yang kemudian dituangkan dalam karya sebagai sebentuk kritisisme untuk membangun dialog yang berkaitan dengan isu tertentu. Relasi antara agama dan manusia, yang nyata dengan yang maya, harmoni dan ancaman, menjadi isu-isu yang mereka angkat. Dalam isu-isu itu ada semacam tuntutan tentang penghapusan diskriminasi terhadap perempuan.</p>
<p>Sementara generasi ketiga menampilkan pengalaman personal dengan keinginan untuk merayakan dan membagikan pengalaman itu, bukan dengan spirit untuk melawan atau berpartisipasi menciptakan diskursus tertentu. Mereka cenderung &#8216;menerima&#8217; situasi-situasi dimana perempuan mempunyai lebih banyak pilihan sebagai sesuatu yang <em>&#8216;given&#8217;.</em> Mereka ini umumnya tidak menjumpai kesulitan untuk berkontribusi dalam kehidupan publik. Karya-karya mereka dekat dengan budaya populer.</p>
<p>Risa Amrikasari pasti mengerti tentang pola-pola dalam gerakan para seniman perempuan, dan sadar betul tentang porsi mana yang pantas diberikan kepada kaum perempuan Indonesia. Di sinilah, kepiawaian Risa ditampilkan dalam membagikan gagasan-gagasan perubahannya. Mungkin ciri pertama terkesan begitu kuat. Namun barangkali perempuan Indonesia saat ini memang harus ‘digebrak’ dengan pendekatan seperti itu.</p>
<p>Untuk membaca tulisan-tulisan Risa Amrikasari dalam buku ini rasanya tak perlu memasang ‘kuda-kuda’ terlebih dahulu seperti mau bertempur menghadapi lawan yang asing. Namun yang dibutuhkan adalah hati yang terbuka, seperti kedua belah telapak tangan yang menyambut setangkai mawar merah dari pribadi yang benar-benar tulus mencinta. Mawar itu harum wangi, meski tangkainya bisa saja berduri… <strong>[skd]</strong></p>
<p><strong><br />
Judul buku	: 	<em>Especially for You, A collection of Self Motivation Articles for Tough Women Only.</em><br />
Penulis	        : 	Risa Amrikasari<br />
Penerbit	        : 	Rose Heart Publishing<br />
Editor	        : 	Risa Amrikasari<br />
Edisi	                : 	Cetakan pertama, Juni 2009<br />
Percetakan	: 	PT. Gramedia, Jakarta<br />
Halaman	        : 	xx +352</strong></p>
<p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-21" title="EFY2" src="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2009/08/efy2.jpg?w=450&#038;h=328" alt="EFY2" width="450" height="328" /><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bukuperempuan.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bukuperempuan.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bukuperempuan.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bukuperempuan.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bukuperempuan.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bukuperempuan.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bukuperempuan.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bukuperempuan.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bukuperempuan.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bukuperempuan.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bukuperempuan.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bukuperempuan.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bukuperempuan.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bukuperempuan.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bukuperempuan.wordpress.com&amp;blog=9135185&amp;post=4&amp;subd=bukuperempuan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bukuperempuan.wordpress.com/2009/08/23/setangkai-mawar-berduri-untuk-perempuan-indonesia-oleh-agus-sukandar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b307edf60fad4d7ca249abfb659b2e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bukuperempuan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2009/08/12.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Especially for You</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bukuperempuan.files.wordpress.com/2009/08/efy2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">EFY2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
